Yogyakarta – Selasa (30/12) Asosiasi Ilmu Hadis Indonesia (ASILHA) berkolaborasi dengan Eksekutif Nasional WALHI menggelar Webinar Nasional bertajuk “Hadis, Perempuan, dan Lingkungan: Menimbang Tafsir Keagamaan dalam Isu Keadilan Gender dan Krisis Ekologis.” Webinar adalah respon atas semakin nyatanya ancaman krisis ekologi di Indonesia. Mulai dari deforestasi hingga bencana hidrometeorologi yang kian ekstrem, persoalan lingkungan kini bukan lagi sekadar isu teknis, melainkan menyentuh ranah teologis. Kolaborasi lintas disiplin ini bertujuan untuk menggali solusi keagamaan di tengah maraknya krisis ekologi yang melanda tanah air.
Refleksi Bencana Aceh dan “Peringatan” dari Langit
Salah satu sorotan utama dalam pertemuan virtual ini adalah paparan dari Guru Besar Hadis Ahkam UIN Ar-Raniry Aceh, Prof. Dr. Abd. Wahid Arsyad, M.Ag. Beliau membawa audiens kembali pada ingatan kolektif bencana besar yang pernah melanda Serambi Mekkah.
Dalam perspektif hadis, Prof. Wahid menekankan bahwa bencana alam—banjir dan tanah longsor kemarin—seringkali menjadi titik temu antara takdir ilahi dan dampak perilaku manusia terhadap alam. Beliau menegaskan bahwa teks-teks hadis tidak hanya bicara soal ibadah ritual, tetapi juga mengandung perintah eksplisit untuk menjaga keseimbangan ekosistem.
“Belajar dari pengalaman bencana di Aceh, kita melihat bahwa tafsir agama harus ditarik ke dalam aksi nyata pelestarian lingkungan. Hadis memberikan panduan bahwa merusak alam sama saja dengan mengundang kerusakan bagi peradaban manusia itu sendiri,” tegasnya.
Alarm Ekologi dan Keadilan Gender
Latar belakang kolaborasi ini dipicu oleh keprihatinan mendalam atas krisis ekologi di berbagai penjuru nusantara yang kian masif. Uli Arta Siagian dari WALHI bersama Dr. Anisatun Muthi’ah menyoroti bagaimana krisis ini tidak berdampak setara; perempuan dan anak-anak seringkali menjadi kelompok yang paling rentan dan terdampak paling berat.
Ketua ASILHA, Prof. Dr. Saifuddin Zuhri Qudsi, dalam keynote speech-nya menyampaikan bahwa kolaborasi dengan aktivis lingkungan seperti WALHI adalah langkah krusial. ASILHA merasa perlu mengintervensi narasi keagamaan agar lebih berpihak pada isu lingkungan dan keadilan gender.
“Agama harus hadir sebagai solusi. Melalui reaktualisasi tafsir hadis, kita ingin membangun kesadaran kolektif bahwa menjaga lingkungan adalah bagian integral dari iman,” ungkap Prof. Saifuddin.
Sinergi Akademisi dan Aktivis
Acara yang dimoderatori oleh Miftachur Rif’ah Mahmud ini menandai babak baru sinergi antara akademisi ilmu hadis dan aktivis lapangan. Diskusi ini diharapkan tidak berhenti di ruang Zoom, melainkan menjadi pemantik bagi para peneliti, mahasiswa, dan mubaligh untuk menyuarakan “khotbah hijau” yang lebih progresif di tengah masyarakat.
104 total views, 4 views today

Pengurus Harian dan Admin web ASILHA; Dosen Prodi Ilmu Hadis Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga.
Sila berkunjung ke blog pribadi https://blog.uin-suka.ac.id/fendi.utomo
Salam kenal dan sehat selalu..!! 🙂

